Berita  

Kisah Horor Lantaran Macet di Malalak dan Sitinjau Lauik, Tol dan Kereta Api Jadi Alternatif Terbaik di Ruas Padang-Bukittinggi

Salah satu ruas rel kereta api di Sumbar. (prokabar)
Salah satu ruas rel kereta api di Sumbar. (prokabar)

PADANGRuas antara Padang dengan Bukittinggi selalu diwarnai kemacetan, apalagi kalau saat liburan Lebaran. Bukan hanya saat libur panjang, tiap pekan ada macet, terutama di Koto Baru.

Kini, muncul pula fenomena baru. Warga yang mudik Idul Adha 2024 menjerit lantaran di Malalak dan Sitinjau Lauik.

Hanya dua jalur itu yang tersedia untuk mencapai Bukittinggi dari Padang maupun sebaliknya.

Persoalan kemacetan tak kunjung selesai. Makanya, kereta api merupakan solusi untuk menghindari kemacetan itu. Dengan kereta api yang menawarkan tarif murah, maka warga akan berbondong-bondong naik kereta.

Reaktivasi jalur kereta api di lintas Padang-Bukittinggi tidak hanya akan meningkatkan sektor transportasi, tetapi juga membangkitkan kembali nostalgia masa lampau dan membuka peluang baru bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Selain kereta api, pembangunan tol juga tak dapat ditawar-tawar lagi. Sumbar mesti banyak jalur alternatif yang menghubungkan antar daerah.

Selain jalur alternatif, Sumbar juga harus memiliki banyak moda transportasi, sehingga masyarakat punya banyak pilihan.

Baca Juga  Bawa Rombongan dari Tangerang, Berkeliling di Sumatera Barat, Bus Pandawa 87 Meluncur Mulus di Sitinjau Lauik

Pembangunan tol jangan lagi dibuat rumit. Jangan lagi berdebat, tapi harus saling memberi solusi, sehingga ada ada titik temu.

Horor di Malalak

Jalur utama Padang-Bukittinggi via Lembah Anai masih dalam perbaikan setelah dihantam galodo Mei lalu. Perbaikan terus dikebut dan alat berat beserta pekerja dikerahkan siang dan malam.

Warga yang hendak Bukittinggi mau tak mau harus lewat jalur alternatif. Jalur itu via Malalak. Ada kisah horor yang dialami warga Ketika melintasi rute itu. Padang-Bukittinggi yang biasanya memakan waktu 2-3 jam, lewat Malalak mencapai 10 jam.

Kisah horor itu terjadi Sabtu pekan lalu. Diperkirakan ribuan kendaraan terjebak macet berjam-jam di ruas itu.

“Perjalanan yang sungguh melelahkan,” ujar salah seorang warga Padang Fatih Saadi dan Hanifa Azwa saat pulang kampung ke Bukittinggi, Minggu (16/6/2024)

Dampak dari putusnya jalan di Lembah Anai sangat besar. Jalan alternatif tidak mampu menampung volume kendaraan, terutama truk dan mobil besar.

Baca Juga  Sumbar Boleh Kalah dari Riau Bangun Tol, Tapi Riau Kalah Jauh dari Sumbar Soal yang Satu Ini

Selain itu, beberapa warga dan pengendara mengungkapkan keluhan mereka mengenai kurangnya informasi dan penanganan cepat terkait kondisi jalan. Banyak yang berharap adanya peningkatan dalam koordinasi dan komunikasi dari pihak berwenang.

“Kami berharap ada informasi yang lebih cepat dan akurat mengenai kondisi jalan. Ini akan sangat membantu dalam merencanakan perjalanan dan menghindari daerah yang macet,” kata seorang pengendara. (*)

Baca berita lainnya di Google News




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *